CNBC/SXCoal – 04 Maret 2026 – Harga batu bara global melonjak menyentuh level tertinggi dalam lebih dari setahun, dengan kontrak April ditutup pada posisi US$ 138,25 per ton pada Selasa kemarin, dan kembali terkoreksi tipis di US$ 138,00 per ton pada Rabu (4 Mar). Kenaikan ekstrem ini dipicu oleh serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada akhir Februari 2026 yang mengancam jalur perdagangan minyak dan gas di Selat Hormuz. Krisis energi tersebut memaksa banyak negara beralih kembali ke batu bara sebagai alternatif utama.
Eskalasi konflik Timur Tengah turut mengerek tarif angkutan laut, dengan tarif kapal Panamax dari Kalimantan Selatan ke Tiongkok Selatan mendekati US$ 9 per ton. Lonjakan biaya logistik ini, diperparah oleh ketidakpastian persetujuan kuota RKAB di Indonesia, membuat batu bara Indonesia kini 24,81 yuan per ton lebih mahal dibandingkan pasokan domestik Tiongkok. Akibatnya, pembeli di Tiongkok mulai menahan impor dan beralih ke pasokan lokal.
Di saat bersamaan, negara-negara konsumen besar memperkuat sektor batu bara domestiknya. Tiongkok terus menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara demi keamanan energi nasional. Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengucurkan dana federal US$ 175 juta untuk memodernisasi enam pembangkit listrik. Sementara itu, India mencatatkan lonjakan produksi batu bara komersial sebesar 18,51% pada Februari 2026 berkat keberhasilan reformasi lelang blok tambang.