Bisnis – 07 Maret 2026 – Di bawah komando Rosan Perkasa Roeslani, Badan Pengelola Investasi Daya Ananta Nusantara (Danantara) sukses mengantongi investasi fantastis senilai US$1,4 miliar atau setara Rp23,66 triliun (asumsi kurs Rp16.905 per dolar AS) untuk pembangunan pabrik pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Langkah masif ini bertujuan mempercepat kemandirian energi dan mendukung target ambisius pemerintah di sektor energi terbarukan.
Usai menghadap Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Kamis (5/3/2026), Rosan yang juga menjabat Menteri Investasi dan Hilirisasi menjelaskan bahwa kucuran dana yang telah mengalir sejak 2025 tersebut ditargetkan untuk merampungkan pembangunan pabrik tahun ini juga. Fasilitas produksi ini diproyeksikan memiliki kapasitas impresif sebesar 50 Gigawatt (GW), yang akan menjadi tulang punggung bagi upaya pemerintah memproduksi dan menggunakan komponen PLTS dalam negeri secara masif.
Kehadiran pabrik ini sangat krusial sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk menggenjot pembangunan PLTS, terutama di kawasan perdesaan. Dari total usulan awal sebesar 100 GW PLTS, pemerintah menetapkan 13 GW sebagai prioritas utama. Implementasi ini akan difokuskan pada daerah-daerah yang telah memiliki rantai distribusi mapan, berkaca pada kesuksesan prototipe PLTS berkapasitas 1 Megawatt (MW) yang baru saja diselesaikan di Sumenep, Jawa Timur.
Guna mempercepat realisasi visi tersebut, Presiden Prabowo menginstruksikan Danantara untuk mempelajari berbagai opsi struktur pendanaan yang efisien. Selain itu, Danantara diminta membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya dengan pihak swasta, khususnya untuk mengadopsi teknologi terkini di bidang panel surya dan baterai penyimpan energi.