Disrupsi Timur Tengah Cekik Pasokan Belerang, Produksi Nikel Indonesia Terancam

Reuters – 07 Maret 2026 – Gangguan pelayaran di Selat Hormuz akibat eskalasi konflik militer AS-Israel dan Iran mengancam pasokan belerang global, yang mana 24% atau sekitar 83,87 juta metrik ton di antaranya diproduksi di kawasan Timur Tengah. Krisis logistik ini memukul telak Indonesia yang memegang lebih dari 50% porsi produksi nikel dunia, mengingat 75% kebutuhan belerangnya didatangkan langsung dari Timur Tengah. Belerang merupakan material esensial untuk menghasilkan asam sulfat yang digunakan dalam proses pelindian (leaching) pabrik nikel berbasis high-pressure acid leaching (HPAL).

Saat ini, cadangan belerang pada pabrik-pabrik HPAL di Indonesia rata-rata hanya tersisa untuk kebutuhan konsumsi 1 hingga 2 bulan. Jika gangguan arus kapal tertahan lebih dari dua minggu, aktivitas konsumsi harus diperlambat dan pabrik berpotensi memangkas produksinya mulai bulan depan. Tekanan ini kian berat karena harga belerang telah melonjak 10% hingga 15% dari posisi sebelum konflik di kisaran US$ 500 per ton. Kenaikan ini sangat menekan profitabilitas, mengingat biaya belerang sendiri telah mendominasi sekitar 50% dari total biaya operasional fasilitas HPAL.

Kelangkaan pasokan ini otomatis memicu perebutan tajam antara kilang nikel Indonesia, produsen pupuk global, hingga penambang tembaga di Afrika. Di wilayah Afrika bagian selatan, stok 900.000 ton belerang di gudang diprediksi hanya akan bertahan dalam hitungan minggu, di mana tahun lalu Republik Demokratik Kongo (DRC) sendiri harus mengimpor 1,3 juta hingga 1,4 juta ton belerang dari Timur Tengah. Beruntung, sebagian penambang tembaga Afrika seperti First Quantum dan Ivanhoe Mines (yang memiliki pabrik berkapasitas 1.200 ton/hari) relatif kebal dari krisis ini karena mereka memproduksi asam sulfat sendiri sebagai produk sampingan (byproduct) dari fasilitas peleburan mereka.

geolocana
Author: geolocana

Leave a Comment