SXCoal/Argus – 12 Maret 2026 – Konflik Timur Tengah dan gangguan pasokan LNG yang menyertainya memaksa pembeli di Asia seperti Taiwan dan Korea Selatan untuk mencari pasokan batu bara termal alternatif, yang berujung pada peningkatan permintaan (enquiries) ke produsen Australia. Volatilitas pasar ini tecermin pada pergerakan harga patokan ICE Newcastle (Apr ’26) yang berada di level US$134,90 (+2,90%) pada perdagangan 11 Maret. Meski demikian, aktivitas pembelian fisik masih tertahan akibat tingginya harga spot dan masih memadainya tingkat persediaan LNG di kawasan tersebut.
Ironisnya, di tengah reli harga global yang bertindak sebagai penguat pasar tersebut, volume ekspor batu bara Indonesia justru merosot tajam. Ekspor lintas laut RI anjlok 25,82% secara mingguan menjadi 7,08 juta ton pada pekan yang berakhir 8 Maret, dengan pengiriman ke China tercatat turun hampir 30%. Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengonfirmasi bahwa para penambang lokal tidak dapat memanfaatkan momentum harga tinggi ini secara optimal.
Kemerosotan ekspor ini dipicu oleh hambatan kebijakan domestik, khususnya lambatnya proses persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 serta ketatnya kewajiban pemenuhan pasokan dalam negeri (DMO). Rencana pemerintah untuk memangkas target produksi nasional dari 790 juta ton menjadi sekitar 600 juta ton sangat membatasi fleksibilitas ekspor perusahaan tambang. Lebih jauh, APBI memperingatkan bahwa pemotongan produksi besar-besaran dalam RKAB ini dapat mengancam lebih dari 100.000 tenaga kerja di sektor pertambangan dari jerat PHK.