Mining – 13 Maret 2026 – Sejak Januari 2025, Amerika Serikat telah menginvestasikan lebih dari $1 miliar pada sektor mineral kritis di Amerika Latin, mencerminkan pergeseran strategis di bawah pemerintahan Trump kedua yang kini memandang litium, tembaga, dan tanah jarang (rare earths) sebagai isu keamanan energi dan nasional. Investasi utama dalam inisiatif ini mencakup pinjaman $100 juta dari Inter-American Development Bank untuk proyek litium senilai $2,5 miliar di Argentina, serta potensi kucuran dana $465 juta dari US Development Finance Corporation untuk memperluas operasi tanah jarang Serra Verde di Brasil. Amerika Latin kini menjadi pusat dari manuver strategis ini karena menyimpan sekitar 60% cadangan litium dunia.
Argentina telah bergerak agresif menarik modal asing melalui skema insentif RIGI yang diluncurkan pada Juli 2024, yang sukses mengerek kapasitas produksi litium nasionalnya menjadi 186.000 ton pada 2025. Sementara itu, Brasil menarik perhatian global karena memiliki 23,3% cadangan tanah jarang dunia, meskipun tingkat produksinya saat ini baru menyentuh 0,02%. Walaupun arus modal AS mengalir deras, pemerintah di kawasan Amerika Latin tetap menjaga keseimbangan geopolitik yang pragmatis dengan menerima investasi dari Washington maupun Beijing, mengingat China masih mendominasi lebih dari 90% pemrosesan tanah jarang global. Ke depannya, komoditas tembaga diproyeksikan akan tetap menjadi motor utama investasi pertambangan regional seiring majunya proyek-proyek raksasa di Cile dan Argentina untuk memenuhi lonjakan permintaan elektrifikasi yang diperkirakan naik dua kali lipat pada 2035.