6 kota kuno yang tercatat dalam sejarah tapi tak pernah ditemukan arkeolog

Sejumlah kota kuno tercatat dalam berbagai teks peradaban dunia, namun hingga kini belum berhasil ditemukan secara ilmiah oleh para arkeolog.

Kota-kota tersebut bukan permukiman kecil, melainkan kota besar yang pernah menjadi pusat kekuasaan, termasuk ibu kota kerajaan dan kekaisaran berpengaruh.

Meski penelitian dan penggalian terus dilakukan, lokasi fisik kota-kota ini masih menjadi misteri.

Dalam teks-teks kuno, kota-kota tersebut digambarkan memiliki sistem pemerintahan, aktivitas ekonomi, hingga kehidupan sosial yang maju.

Namun, perubahan alam dan perjalanan sejarah diduga menyebabkan kota-kota itu tertimbun atau hilang jejaknya.

Dalam beberapa kasus, para ahli menduga kota-kota tersebut lebih dulu ditemukan oleh penjarah yang mengambil artefak berharga.

Sayangnya, lokasi penemuan itu tidak pernah diungkapkan kepada publik maupun otoritas resmi.

Lantas, kota-kota hilang apa saja yang hingga kini belum pernah ditemukan?

6 kota kuno yang belum ditemukan arkeolog

Dilansir dari Live Science, Minggu (29/12/2025), berikut adalah enam kota kuno yang disebut dalam sumber sejarah, namun lokasinya masih menjadi teka-teki hingga kini:

1. Irisagrig

Tidak lama setelah invasi Amerika Serikat (AS) ke Irak pada 2003, ribuan tablet kuno yang diduga berasal dari sebuah kota bernama Irisagrig mulai beredar di pasar barang antik internasional.

Para ilmuwan meneliti tablet-tablet tersebut dan para menyimpulkan bahwa Irisagrig merupakan kota yang berada di wilayah Irak dan berkembang sekitar 4.000 tahun lalu.

Prasasti-prasasti terseut menggambarkan kehidupan para penguasa kota yang tinggal di istana-istana besar dan memelihara banyak anjing. Selain itu, penguasa Irisagrig juga diketahui memelihara singa yang diberi makan ternak.

Orang-orang yang bertugas merawat singa-singa tersebut, yang disebut sebagai ‘gembala singa’ tertulis mendapatkan jatah makanan berupa roti dan bir.

Tablet-tablet kuno itu juga menyebut keberadaan sebuah kuil yang dipersembahkan kepada Enki, dewa kebijaksanaan, yang kerap menjadi lokasi penyelenggaraan festival keagamaan.

Para ahli menduga  bahwa Irisagrig ditemukan dan dijarah oleh perampok artefak pada masa invasi AS ke Irak.

Namun hingga kini, para arkeolog belum berhasil menemukan lokasi kota tersebut, sementara para penjarah yang menemukannya tidak pernah mengungkapkan keberadaan Irisagrig kepada publik.

2. Itjtawy

Pada masa 1981 hingga 1952 sebelum Masehi (SM), Firaun Mesir Amenemhat I memerintahkan pembangunan ibu kota baru.

Ibu kota tersebut dikenal sebagai “Itjtawy” dan nama tersebut dapat diterjemahkan sebagai “penakluk Dua Negeri” atau “Amenemhat adalah penakluk Dua Negeri.”

Disebutkan bahwa Amenemhat menghadapi banyak kekacauan di kerajaannya sebelum akhirnya masa pemerintahannya berakhir dengan pembunuhan.

Meski Amenemhat I tewas terbunuh, Itjtawy tetap berfungsi sebagai ibu kota Mesir hingga sekitar 1640 SM. Kota itu baru kehilangan perannya setelah wilayah utara Mesir dikuasai kelompok Hyksos, yang menandai runtuhnya Kerajaan Tengah.

Hingga kini, lokasi Itjtawy belum berhasil diidentifikasi. Namun, para arkeolog memperkirakan kota kuno tersebut berada di sekitar Lisht, Mesir tengah. Hal itu disebabkan banyaknya makam elit, termasuk piramida milik Amenemhat I, yang ditemukan di kawasan tersebut.

3. Akkad

Kota Akkad, yang juga dikenal dengan nama Agade, merupakan ibu kota Kekaisaran Akkadia yang mencapai masa kejayaannya pada rentang 2350–2150 SM.

Pada puncak kekuasaan, wilayah kekaisaran ini membentang luas dari Teluk Persia hingga Anatolia.

Sebagian besar ekspansi wilayah Akkadia terjadi pada masa pemerintahan Sargon dari Akkad, penguasa yang hidup sekitar 2300 SM dan dikenal sebagai salah satu penakluk besar di Mesopotamia.

Di pusat kota Akkad berdiri Eulmash, sebuah kuil utama yang dipersembahkan kepada Ishtar, dewi yang diasosiasikan dengan perang, kecantikan, dan kesuburan.

Hingga kini, lokasi Kota Akkad belum berhasil ditemukan. Namun, para ahli memperkirakan kota tersebut berada di wilayah Irak.

Sumber-sumber kuno menyebutkan bahwa Akkad hancur atau ditinggalkan seiring runtuhnya Kekaisaran Akkadia sekitar 2150 SM.

4. Al-Yahudu

Al-Yahudu, yang berarti “kota” atau “wilayah” Yehuda, merupakan sebuah permukiman di Kekaisaran Babilonia yang menjadi tempat tinggal orang-orang Yahudi setelah Kerajaan Yehuda ditaklukkan oleh Raja Babilonia Nebukadnezar II pada 587 SM.

Usai penaklukan tersebut, Nebukadnezar II memerintahkan pengasingan sebagian penduduk Yehuda, sebuah kebijakan yang lazim diterapkan bangsa Babilonia terhadap wilayah taklukan.

Sekitar 200 tablet dari permukiman Al-Yahudu menunjukkan bahwa komunitas Yahudi yang hidup di pengasingan tetap mempertahankan identitas keagamaannya.

Hal itu terlihat dari penggunaan nama Yahweh, sebutan bagi Tuhan, dalam nama-nama pribadi mereka.

Hingga kini, lokasi Al-Yahudu belum berhasil diidentifikasi oleh para arkeolog. Namun, seperti sejumlah kota kuno lain yang hilang, permukiman ini diperkirakan berada di wilayah yang kini termasuk Irak.

Kemunculan tablet-tablet Al-Yahudu di pasar barang antik, tanpa catatan penemuan dari penggalian resmi, mengindikasikan bahwa lokasi permukiman tersebut kemungkinan pernah ditemukan dan dijarah oleh pihak-pihak tertentu.

5. Wassukanni  

Wassukanni merupakan ibu kota Kekaisaran Mitanni, sebuah kota besar yang berjaya sekitar 1550–1300 SM Wilayahnya mencakup Suriah timur laut, Anatolia selatan, serta Irak utara.

Sepanjang sejarahnya, Kekaisaran Mitanni menghadapi persaingan sengit dari Kekaisaran Het di sebelah utara dan Kekaisaran Asyur di selatan.

Tekanan dari dua kekuatan tersebut membuat wilayah Mitanni perlahan menyusut dan akhirnya jatuh ke tangan para rivalnya.

Penduduk Wassukanni dan sebagian besar wilayah Mitanni sendiri dikenal sebagai bangsa Hurria. Mereka memiliki bahasa sendiri yang jejaknya masih dapat ditelusuri melalui berbagai teks kuno.

Hingga kini, lokasi Wassukanni belum berhasil ditemukan. Sejumlah sejarawan dan arkeolog memperkirakan ibu kota tersebut berada di kawasan Suriah timur laut.

6. Thinis  

Thinis, yang juga dikenal dengan nama Tjenu, merupakan kota kuno di Mesir selatan yang memainkan peran penting pada masa awal peradaban Mesir.

Sejarawan kuno Manetho mencatat bahwa sejumlah raja awal Mesir memerintah dari Thinis sekitar 5.000 tahun lalu, pada periode ketika Mesir Hulu dan Hilir tengah disatukan.

Tak lama setelah proses penyatuan tersebut, ibu kota Mesir dipindahkan ke Memphis.

Meski demikian, Thinis tetap berfungsi sebagai ibu kota sebuah nome atau provinsi Mesir selama periode Kerajaan Lama, sekitar 2649–2150 SM.

Hal ini disampaikan oleh Ali Seddik Othman, inspektur Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, dalam tulisannya yang dimuat di Journal of Abydos.

Hingga kini, lokasi pasti Thinis belum berhasil diidentifikasi. Namun, para arkeolog meyakini kota ini berada di sekitar Abydos, Mesir selatan.

Dugaan tersebut didasarkan pada banyaknya makam tokoh elit, termasuk anggota keluarga kerajaan yang ditemukan di kawasan Abydos sekitar 5.000 tahun lalu.

sumber: kompas.com

geolocana
Author: geolocana

Leave a Comment