Bloomberg – 24 Maret 2026 – Harga tembaga kembali melanjutkan tren penurunannya, merosot 1,4% menjadi US$11.995 per ton di London Metal Exchange (LME) pada perdagangan pagi di London, sekaligus menggenapkan total kejatuhan sebesar 10% pada bulan ini. Penurunan ini terjadi setelah rebound singkat yang rapuh, yang sempat dipicu oleh klaim Presiden AS Donald Trump mengenai penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Namun, harapan de-eskalasi menguap dengan cepat setelah para pejabat Iran membantah keras adanya pembicaraan diplomatik. Konflik justru makin memanas menyusul rentetan serangan rudal dan drone dari Teheran semalaman yang menghantam kota-kota Israel—termasuk Eilat, Dimona, dan Tel Aviv—serta pangkalan militer AS di Timur Tengah. Menambah kepanikan pasar, Wall Street Journal melaporkan bahwa sekutu-sekutu AS di Teluk Persia kian dekat untuk ikut campur dalam perang tersebut, memperburuk ketakutan akan inflasi berbasis energi yang dapat memaksa bank sentral global mempertahankan suku bunga hawkish.
Meskipun tembaga mencatatkan penurunan mingguan paling tajam dalam hampir setahun terakhir (ambles 6,7% pekan lalu), para analis melihat adanya batas bawah struktural yang mulai terbentuk. Analis Guoyuan Futures Co., Fan Rui, mencatat bahwa penurunan harga lebih lanjut akan tertahan oleh agresifnya aksi beli bawah (dip-buying) dari China. Persediaan domestik di negara konsumen utama tersebut tercatat menurun drastis selama sepekan terakhir karena para pabrikan memanfaatkan momentum harga di bawah US$12.000. Selain itu, peran krusial logam ini dalam transisi energi global tetap menjadi penopang permintaan jangka panjang. Di luar tembaga, sentimen bearish masih mendominasi bursa logam industri; nikel dan seng ikut terkoreksi, sementara hanya aluminium yang berhasil melawan arus dengan kenaikan tipis 0,6%.