China Kucurkan $120 Miliar untuk Kuasai Mineral Kritis Global dalam Ambisi Monopoli Cleantech

Mining – 25 Maret 2026 – China secara agresif terus memperkuat dominasinya atas transisi energi global, dengan mencatatkan investasi fantastis sebesar $120 miliar di sektor pertambangan dan pemrosesan hulu luar negeri sejak tahun 2023. Menurut laporan terbaru dari lembaga think tank Australia, Climate Energy Finance (CEF), pengerahan modal masif ini menargetkan komoditas esensial seperti litium, tembaga, nikel, logam tanah jarang (rare earths), dan bauksit. Ekspansi hulu ini dipadukan dengan investasi yang jauh lebih besar yakni $220 miliar ke sektor hilir—termasuk manufaktur baterai, EV, jaringan listrik, dan infrastruktur terbarukan—menciptakan strategi terintegrasi vertikal yang sangat terkoordinasi, yang dijuluki CEF sebagai “green energy statecraft” (tata negara energi hijau).

Sistem terpadu ini telah memberikan Beijing kendali yang belum pernah terjadi sebelumnya atas ekonomi rendah karbon. Saat ini, China mendominasi rantai pasok global dengan menguasai sekitar 90% pemurnian logam tanah jarang, 60% pemrosesan litium, lebih dari 70% pemurnian kobalt, serta lebih dari 90% material katoda dan anoda baterai. Sebagian besar investasi ini mengalir secara strategis ke negara-negara Selatan Global (Global South). Melalui kerangka kerja kolaboratif alih-alih model ekstraktif murni, China berhasil mengubah negara seperti Indonesia menjadi pemroses nikel terbesar di dunia, sekaligus mengamankan cengkeraman ketat atas tembaga dan kobalt di Republik Demokratik Kongo serta litium di Zimbabwe dengan membangun infrastruktur lokal dan fasilitas pemrosesan sebagai ganti perjanjian pasokan jangka panjang.

Meskipun model hibrida gabungan negara-swasta ini berhasil mempercepat pembangunan infrastruktur di negara-negara berkembang, hal ini memicu kepanikan mendalam di kalangan pemerintah Barat. Merespons kekuatan pasar China yang luar biasa, AS telah meluncurkan Kemitraan Keamanan Mineral (Minerals Security Partnership), sementara Uni Eropa memperkenalkan Undang-Undang Bahan Baku Kritis (Critical Raw Materials Act) untuk mendiversifikasi sumber pasokan mereka. Namun, para pakar industri memperingatkan bahwa untuk dapat mereplikasi skala, kecepatan, dan integrasi vertikal masif milik China, negara-negara Barat akan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

geolocana
Author: geolocana

Leave a Comment