Fortune/SCMP – 12 Maret 2026 – Amerika Serikat saat ini hanya memiliki pasokan tanah jarang untuk kebutuhan militer yang diperkirakan cukup untuk sekitar dua bulan, sebuah kondisi yang dapat membatasi kemampuan Washington dalam mempertahankan serangan terhadap Iran. Elemen tanah jarang merupakan komponen esensial untuk sistem panduan rudal, jet tempur, dan teknologi radar. Kerentanan ini menyoroti besarnya pengaruh strategis China, yang menguasai sekitar 70% produksi tanah jarang global dan hampir 90% kapasitas pemrosesan serta pemurnian dunia. Dominasi China ini merupakan hasil dari investasi dan subsidi bernilai miliaran dolar sejak era 1980-an. Selain itu, Rencana Lima Tahun ke-15 Beijing (2026-2030) juga menargetkan penguatan industri tanah jarang dan sistem kontrol ekspor mereka.
Sebagai respons, negara-negara Barat kini berpacu mendiversifikasi rantai pasok mereka. Pemerintahan Trump baru-baru ini meluncurkan inisiatif penimbunan senilai $12 miliar, dan AS telah menandatangani pakta tanah jarang senilai $8,5 miliar dengan Australia, Malaysia, serta Thailand pada Oktober lalu. Sementara itu, Uni Eropa telah mengesahkan Undang-Undang Bahan Baku Kritis pada 2024, yang menetapkan target tahun 2030 untuk memenuhi 10% konsumsi dari ekstraksi domestik dan 40% dari pemrosesan domestik. Meskipun ada berbagai upaya tersebut, pakar industri memperingatkan bahwa butuh waktu hingga satu dekade bagi negara-negara lain untuk membangun industri tanah jarang mereka sendiri dan mengejar ketertinggalan dari teknologi pemrosesan China yang terspesialisasi.