CNBC – 24 Maret 2026 – Pemerintah Filipina telah mengumumkan langkah darurat untuk menggenjot produksi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara seiring dengan konflik Timur Tengah yang mengacaukan pengiriman gas LNG dan melambungkan harga energi global. Menteri Energi Sharon Garin menyatakan bahwa negara kepulauan berpenduduk 116 juta jiwa tersebut—yang 60% kebutuhan listriknya sudah bergantung pada batu bara—akan terpaksa meningkatkan ketergantungannya pada bahan bakar fosil ini untuk menekan lonjakan tarif listrik. Inisiatif yang ditargetkan mulai berjalan paling cepat pada 1 April ini mencakup maksimalisasi produksi batu bara lokal serta opsi peningkatan impor dari pemasok utamanya, Indonesia.
Pemerintah Indonesia telah memberikan jaminan bahwa tidak akan ada pembatasan volume ekspor batu bara ke Filipina di tengah kondisi krisis ini. Langkah kembali ke batu bara dinilai sebagai solusi paling realistis untuk meredam tekanan ekonomi rumah tangga, terutama karena ladang gas lepas pantai Malampaya—yang memasok 40% listrik untuk pulau utama Luzon—diprediksi akan segera mengering dalam beberapa tahun ke depan, terlepas dari adanya temuan cadangan gas baru yang sempat diumumkan oleh Presiden Ferdinand Marcos pada Januari lalu.