Reuters/Bloomberg – 17 Maret 2026 – Harga emas spot merosot 0,5% menjadi US$4.993,42 per troy ons—level terendahnya sejak 19 Februari—sementara kontrak berjangka AS turun 1,2% ke US$5.002,20. Secara paradoks, eskalasi perang AS-Israel melawan Iran justru memberikan tekanan berat pada logam mulia tersebut. Meskipun krisis geopolitik dan blokade Selat Hormuz umumnya memicu arus masuk dana pelarian aman (safe-haven), konflik ini secara bersamaan telah melambungkan harga minyak, di mana Brent dan WTI meroket hanya dalam sepekan terakhir. Lonjakan tajam biaya energi ini mengancam kembali membara-nya inflasi global, yang memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral, termasuk The Fed di bawah kepemimpinan calon gubernur baru Kevin Warsh, akan menahan suku bunga acuan tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Akibatnya, biaya peluang (opportunity cost) untuk menahan emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi meningkat, memicu rentetan koreksi harga sebesar 3,51% selama empat hari berturut-turut. Pelemahan global ini turut menyeret turun harga emas lokal Antam sebesar Rp4.000 menjadi Rp2.988.000 per gram, dengan harga buyback di posisi Rp2.740.000 per gram. Kendati ada tekanan jangka pendek, sejumlah pakar strategi pasar tetap mempertahankan pandangan bullish jangka panjang. Para analis mencatat bahwa masih banyak modal dalam jumlah besar yang mengantre di pinggir lapangan (on the sidelines) untuk masuk ke pasar, dengan proyeksi bahwa harga emas pada akhirnya bisa menembus level psikologis US$6.000 per ons di tengah tingginya ketidakpastian dunia.