Kontan/Bloomberg – 02 Maret 2026 – Merespons jeritan produsen listrik swasta (IPP) mengenai krisis stok batu bara yang anjlok di bawah 10 Hari Operasi (HOP), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya turun tangan memanggil PT PLN (Persero). Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menginstruksikan PLN untuk segera memetakan pembangkit mana saja yang kondisinya paling genting agar stok batu baranya dapat segera dimaksimalkan.
Untuk menambal defisit pasokan di tengah ketidakpastian RKAB, Kementerian ESDM mengambil langkah agresif:
- Wajib Setor DMO 30%: Pemerintah memerintahkan perusahaan tambang BUMN dan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) Generasi I—yang kebal dari pemangkasan kuota—untuk mengerek setoran Domestic Market Obligation (DMO) menjadi 30% dari total produksi pada awal tahun ini (naik dari aturan minimal 25%).
- Target 75 Juta Ton Semester I: Dirjen Minerba Tri Winarno secara spesifik menargetkan kelompok tambang raksasa ini menyetor 75 juta ton batu bara sepanjang Semester I 2026 demi mengamankan sistem kelistrikan PLN terlebih dahulu.
Menurut hitungan Yuliot, secara volume, porsi DMO 30% dari target 600 juta ton seharusnya sudah lebih dari cukup. Masalah utamanya terletak pada distribusi dan prioritas pengiriman. Wakil Direktur PT Cirebon Electric Power (CEP), Joseph Pangalila, membongkar bahwa krisis ini dipicu oleh disparitas harga. Harga DMO untuk pembangkit dipatok sangat rendah yakni US$70 per ton, jauh di bawah harga untuk industri semen (US$90 per ton) atau smelter yang mengikuti harga pasar. Akibatnya, penambang menempatkan PLTU sebagai prioritas paling akhir untuk dikirimkan barangnya.
Di tengah teguran ESDM dan keluhan IPP, PLN tetap mempertahankan narasi bahwa pasokan mereka aman. Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, mengklaim bahwa keterlambatan RKAB baru tidak mengganggu operasional karena mereka masih menggunakan RKAB 3 tahunan lama (yang berlaku hingga Maret 2026), dengan stok rata-rata di kisaran 10 hingga 15 HOP. Meski demikian, ia mengakui bahwa “butuh usaha lebih keras” untuk memperoleh pasokan batu bara saat ini.