Mining – 04 Maret 2026 – Eskalasi konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran memicu guncangan masif pada sektor logam dan pertambangan global. Norsk Hydro resmi menerbitkan status force majeure dan mulai menutup fasilitas patungan smelter Qatalum berkapasitas 648.000 metrik ton per tahun di Qatar. Penutupan ini dipicu oleh penangguhan pasokan gas dari QatarEnergy menyusul terhentinya produksi gas alam cair akibat serangan drone Iran. Insiden ini memicu kekhawatiran meluasnya penutupan fasilitas di negara-negara kawasan Teluk yang menyumbang 8% pasokan aluminium dunia, sehingga mendorong harga aluminium di London Metal Exchange (LME) melonjak 2% menjadi $3.259,50 per ton dan premi Eropa mencapai level tertinggi dalam 3,5 tahun terakhir.
Serangan rudal Iran turut memaksa penutupan sebagian wilayah udara Uni Emirat Arab dan membatalkan lebih dari 12.300 penerbangan global. Kondisi ini melumpuhkan pengiriman fisik logam mulia, seperti emas dan perak, yang pendistribusiannya sangat bergantung pada ruang kargo pesawat penumpang melalui hub sentral di Dubai. Pemindahan rute distribusi melalui jalur darat dinilai terlalu berisiko dan sarat kompleksitas lintas batas, sehingga hambatan logistik udara ini memunculkan kekhawatiran kelangkaan pasokan yang langsung mengerek naik premi emas batangan di pasar Arab Saudi.
Gejolak perang ini langsung memicu aksi jual masif yang menghantam pasar komoditas dan saham tambang secara global. Harga emas turun 3,5% menjauhi level $5.000 per ons, perak anjlok 6% ke kisaran $83 per ons, dan tembaga turun 2% menjadi $12.850 per ton. Produsen logam mulia menjadi pihak paling terpukul, ditandai dengan anjloknya saham Newmont sebesar 7,9% menjadi bervaluasi $129 miliar dan Barrick Mining yang turun 8,3% menjadi $78 miliar. Saham raksasa tembaga seperti BHP dan Freeport-McMoRan juga ditutup melemah masing-masing 5,6% dan 4,0%, meskipun seluruh emiten tambang papan atas ini masih mencatatkan kinerja positif secara year-to-date berkat kuatnya reli harga komoditas pada awal tahun 2026.