BBC – 26 Maret 2026 – Melalui jalur diplomasi, Iran akhirnya mengizinkan kapal-kapal komersial dari enam negara—Thailand, China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India—untuk melintasi Selat Hormuz dengan aman. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa selat tersebut tidak sepenuhnya ditutup. Akses tetap diberikan bagi negara-negara yang dianggap “bersahabat” asalkan ada koordinasi sebelumnya dengan pihak berwenang. Sebaliknya, kapal-kapal yang terafiliasi dengan AS, Israel, maupun sekutunya dilarang keras melintasi kawasan yang kini dilabeli sebagai “zona perang” tersebut.
Dampaknya, lalu lintas maritim di selat tersebut anjlok drastis dari rata-rata 138 kapal per hari sebelum perang menjadi hanya 5-6 kapal. Kapal-kapal yang diizinkan melintas kini juga harus mengambil rute yang lebih panjang; bergeser lebih ke utara mendekati pesisir Iran (utara Pulau Larak) agar aparat Iran dapat memantau pergerakan mereka.
Di sisi lain, nasib dua kapal tanker milik Indonesia, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih tertahan di Teluk Arab. Pihak Pertamina International Shipping memastikan bahwa tertahannya kedua kapal ini tidak akan mengganggu pasokan energi nasional, mengingat perusahaan masih mengoperasikan 345 armada kapal lainnya. Saat ini, Kementerian Luar Negeri RI terus mengupayakan komunikasi intensif dengan otoritas Iran agar kedua kapal tanker tersebut segera mendapatkan izin melintas dengan aman.