Reuters – 26 Maret 2026 – Raksasa industri Jerman dan Korea Selatan kian rentan terhadap krisis pasokan logam tanah jarang (rare earths) di saat AS dan Jepang secara agresif mengunci rantai pasok non-China, ungkap Darryl Cuzzubbo, CEO Arafura Rare Earths asal Australia. Menyusul pembatasan ekspor China tahun lalu, AS dan Jepang telah mengamankan perjanjian jangka panjang besar-besaran dengan satu-satunya dua produsen skala besar di Barat: MP Materials (AS) dan Lynas Rare Earths (Australia). Dengan terkuncinya sebagian besar produksi Lynas, Arafura kini melihat adanya urgensi yang memuncak dari para pembeli global yang tersisa, yang kini berebut untuk mengamankan pasokan bahan baku mereka.
Arafura saat ini tengah bernegosiasi untuk menyalurkan tambahan 1.200 metrik ton oksida neodymium-praseodymium (NdPr) dari Proyek Nolans di Northern Territory. Langkah ini diperlukan untuk mencapai ambang batas 80% pasokan terkunci yang diwajibkan oleh para kreditur sebelum perusahaan dapat menetapkan keputusan investasi final (FID). Perusahaan mengincar struktur harga yang menguntungkan seperti kontrak Lynas baru-baru ini, yang berhasil mengunci harga dasar US$110 per kilogram—jauh lebih tinggi dari harga acuan China saat ini di kisaran US$103/kg. Arafura juga bersiap untuk memasok cadangan mineral kritis Australia senilai A$1,2 miliar, sebuah stockpile strategis yang diharapkan Cuzzubbo dapat membantu menciptakan acuan harga global yang independen dan terlepas dari China guna memperbaiki kondisi pasar yang saat ini “rusak”.