Reuters/Bloomberg – 02 Maret 2026 – Zimbabwe, produsen litium terbesar keempat di dunia yang menyumbang sekitar 10% produksi tambang global, secara mendadak menangguhkan seluruh ekspor mineral mentah dan konsentrat litium per 25 Februari 2026. Keputusan ini memicu kekhawatiran pasokan bahan baku baterai dan mendorong lonjakan harga di pasar global.
Rincian Kebijakan
- Tujuan: Kementerian Pertambangan mempercepat larangan yang awalnya dijadwalkan pada tahun 2027 ini untuk menghentikan praktik pengiriman ilegal dan memaksa perusahaan pertambangan membangun fasilitas pemrosesan (hilirisasi) di dalam negeri.
- Pengecualian: Izin ekspor hanya diberikan kepada perusahaan dengan lisensi pertambangan sah yang memiliki kapasitas pemrosesan lokal. Ekspor produk antara (*ntermediate) seperti *lithium sulphate* tidak terdampak oleh larangan ini.
Dampak Pasar Global
- Harga Komoditas: Harga litium karbonat di Guangzhou Futures Exchange naik 5,4% menjadi 177.000 yuan ($25.856) per ton.
- Lonjakan Saham: Saham produsen litium dunia melonjak tajam. Di Tiongkok, Tianqi Lithium naik 7,3% dan Ganfeng Lithium 5,6%. Di Australia, PLS Group naik 7,6%. Di AS, saham Albemarle Corp. bertambah 10% dan Sigma Lithium Corp. melonjak hingga 30%.
Pada tahun 2025, negara Afrika ini mengekspor 1,128 juta metrik ton konsentrat spodumene (naik 11% YoY), yang menyumbang 19% dari total impor konsentrat litium Tiongkok.
Untuk mematuhi dorongan pemrosesan domestik dari pemerintah Zimbabwe, raksasa pertambangan Tiongkok telah menanamkan modal besar. Zhejiang Huayou Cobalt baru-baru ini membangun pabrik pengolahan lithium sulphate senilai $400 juta, sementara Sinomine Resource Group mengumumkan rencana pembangunan pabrik serupa senilai $500 juta di tambang Bikita.