Mining – 13 Maret 2026 – Harga nikel global berpotensi terus menanjak tahun ini seiring kebijakan pembatasan produksi oleh produsen utama Indonesia yang mengancam pasar masuk ke jurang defisit. Menurut tim penyusun strategi Macquarie Group yang dipimpin oleh Jim Lennon, pengetatan kuota pasokan nikel yang diumumkan pemerintah Indonesia pada Desember 2025 sukses mengerek harga logam nikel, nickel pig iron (NPI), nikel sulfat, hingga bijih nikel. Tingginya premi domestik untuk bijih nikel Indonesia telah memicu peningkatan harga NPI hingga hampir US$3.000, yang membentuk level dasar harga di kisaran US$17.000–US$18.000 per ton untuk nikel yang diperdagangkan di bursa LME.
Macquarie menyoroti bahwa produksi global mungkin tidak akan naik sama sekali tahun ini akibat restriksi Indonesia, yang berpotensi mengubah proyeksi awal surplus 90.000 ton menjadi defisit pasar. Selain itu, produksi MHP juga melemah dari perkiraan akibat kekurangan bijih limonit dan insiden kecelakaan bendungan tailing di Morowali baru-baru ini. Rantai pasok juga berisiko terhambat oleh gangguan pasokan sulfur dari Timur Tengah yang dapat menunda ekspansi kapasitas baru. Pada periode Januari-Februari, produksi NPI diperkirakan telah anjlok 10% secara tahunan (year-on-year) akibat penurunan kadar bijih dan peralihan fungsi tungku peleburan untuk memproduksi nickel matte.