Bloomberg – 25 Maret 2026 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo Subianto telah secara resmi menyetujui penerapan pajak ekspor atau Bea Keluar (BK) khusus untuk komoditas batu bara dan nikel. Besaran pasti dari tarif tersebut akan diputuskan dalam rapat lintas kementerian pada Kamis (26/3), dengan pemerintah membidik target implementasi yang sangat agresif yakni pada 1 April 2026.
Meskipun Purbaya enggan merinci angka final yang disetujui sebelum rapat paripurna, ia sebelumnya sempat mengusulkan skema tarif berjenjang sebesar 5%, 8%, dan 11% yang disesuaikan dengan fluktuasi harga global. Pemerintah sangat mengandalkan kebijakan ini, dengan target meraup tambahan penerimaan negara hingga Rp 25 triliun khusus dari bea keluar batu bara demi memanfaatkan momentum windfall profit geopolitik saat ini.
Purbaya tidak menampik bahwa kebijakan ini pasti akan memicu penolakan keras dari para pengusaha tambang. Namun, ia menegaskan bahwa tingginya harga batu bara saat ini sangat membenarkan langkah pemerintah untuk menambah pundi-pundi negara. Kontrak batu bara ICE Newcastle saat ini masih bertengger kokoh di level US$136,50 per ton setelah pekan lalu sempat menembus rekor tertinggi dalam 1,5 tahun di US$146,50 per ton.
Guna menjaga keseimbangan antara penerimaan negara dan profitabilitas pelaku industri, Kementerian ESDM ditugaskan untuk menghitung ulang secara presisi beban bea keluar tersebut agar tidak terlalu memberatkan penambang. Selain itu, Purbaya kembali menegaskan bahwa Kementerian ESDM juga akan segera mengubah target produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 beriringan dengan kebijakan pajak baru ini.
Manuver fiskal ini diterapkan menyusul pelemahan kinerja sektor batu bara pada tahun lalu. Berdasarkan data, produksi batu bara nasional sepanjang 2025 turun 5,5% menjadi 790 juta ton (dari 836 juta ton pada 2024), di mana 514 juta ton (65,1%) dialokasikan untuk ekspor. Penurunan volume ini turut menyeret nilai ekspor batu bara sepanjang 2025 turun 19,7% secara tahunan menjadi US$24,48 miliar.