Sejarah pertambangan di tanah air dimulai dengan kegiatan pertambangan yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakat adat. Indonesia memiliki hasil bumi dan tambang yang cukup melimpah sejak dulu. Sejumlah bahan tambang yang terdapat di Indonesia di antaranya adalah batu bara, minyak dan gas bumi, emas, nikel, tembaga, bauksit, intan dan sebagainya.
Di masa kerajaan, tanda-tanda aktivitas penambangan di Indonesia ditemukan salah satunya di Minangkabau, yang kini termasuk wilayah Sumatera Barat. Tepatnya di Gunung Ophir, gunung tertinggi di Sumatera yang menyimpan endapan logam emas.
Catatan sejarah industri ekstraksi sumber daya alam di Indonesia, berlangsung secara masif di era Pemerintah Belanda, melalui pembentukan Ereenigde Oostindische Compagnie alias VOC, pada tahun 1602. Selain menjual rempah-rempah, Bealanda juga melakukan perdagangan hasil pertambangan. Pada tahun 1652, penyelidikan berbagai aspek ilmu tentang alam dilakukan oleh para ilmuwan dari Eropa. Hingga akhirnya pada tahun 1850, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Dienst Van Het Mijnwezen (Mijnwezenn -Dinas Pertambangan) yang berkedudukan di Batavia, tujuannya untuk lebih mengoptimalkan penyelidikan geologi dan pertambangan menjadi lebih terarah.
Menjelang tahun 1920, sesuai dengan rencana Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Bandung sebagai ibukota, maka dilakukan persiapan untuk memindahkan kantor Mijnwezen ke Bandung. Departement Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum) membawahi Mijnwezen dan bertempat di Gedung Sate. Pada tahun 1922, lembaga Mijnwezen ini berganti nama menjadi Dienst van den Mijnbouw.
Berlanjut di tahun 1928, Pemerintah Hindia Belanda membangun gedung Geologisch Laboratorium yang terletak di jalan Wilhelmina Boulevard untuk kantor Dienst van den Mijnbouw. Gedung ini dipergunakan untuk penyelenggaraan sebagian dari acara Pacific Science Congress ke IV. Saat ini, areal tersebut dimanfatkan sebagai Museum Geologi, yang berlamat di jalan Diponegoro Nomor 57 Bandung.
Selama Perang Dunia kedua, gedung Geologisch kerap dipergunakan sebagai tempat pendidikan atau Kursus Asisten Geologi, dengan Assistent Geologen Cursus peserta hanya beberapa orang saja, di antaranya yang berasal dari pribumi ada Raden Soenoe Soemosoesastro dan Arie Frederik Lasut. Keduanya menjadi pegawai menengah pertama di kantor Mijnbouw sejak tahun 1941, yang di kemudian hari menjadi tokoh perjuangan dalam membangun kelembagaaan tambang dan geologi nasional.
Pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), Mijnbouw dengan segala sarana dan dokumennya diambil alih oleh Jepang, dan namanya berganti menjadi Chisitsu Chosasho. Lembaga ini tidak dapat berbuat banyak karena ketiadaan tenaga ahli dan anggaran. Awalnya, para pakar asal Belanda masih dipertahankan, tetapi kemudian diinternir, kecuali orang-orang yang diperlukan oleh Jepang.
Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang bergulir pada tanggal 17 Agustus 1945, mengantarkan perubahan yang sangat besar di segala bidang, termasuk pertambangan. Setelah disiarkan melalui radio, berita tentang proklamasi diterima secara luas oleh masyarakat di seluruh Indonesia. Pegawai pribumi di kantor Chisitsu Chosasho yang sebagian besar masih muda, menerima berita itu. Mereka langsung mempersiapkan diri untuk mengambil langkah.
Pada 25 September 1945, keluar pengumuman yang menyatakan bahwa semua pegawai negeri adalah pegawai Republik Indonesia, dan wajib menjalankan mandat dari Pemerintah Republik Indonesia. Komite Nasional Indonesia Kota Bandung yang baru terbentuk kala itu, pada tanggal 27 September 1945 malam, mengumumkan lewat radio agar keesokan harinya semua kantor dan perusahaan yang ada di Bandung diambil alih dari kekuasaan Jepang.
Tepat pada hari Jumat siang, sekelompok pegawai muda di kantor Chisitsu Chosasho pun bertindak, dipelopori oleh Raden Ali Tirtosoewirjo, AF Lasut, Raden Soenoe Soemosoesastro dan Sjamsoe M Bahroem. Mereka mengambil alih secara paksa kantor Chisitsu Chosasho dari pihak Jepang. Hingga akhirnya sejarah baru dimulai, sejak saat itu nama kantor diubah menjadi Poesat Djawatan Tambang dan Geologi.
Tak lama kemudian, Dewan Pimpinan Kantor dibentuk, terdiri dari tujuh orang yang dinahkodai Raden Ali Tirtosoewirjo. Selang beberapa hari, terjadi pergantian, Soenoe Soemosoesastro yang semula menjabat sebagai wakil pimpinan diangkat menjadi pimpinan, dan Lasut sebagai wakilnya. Selang beberapa pekan, terjadi lagi pergantian, Lasut diangkat sebagai Kepala Poesat Djawatan, dan Soenoe Soemosoesastro sebagai Kepala Bagian Geologi. Pada tanggal 20 Oktober 1945, Lasut mengeluarkan pengumuman pertama, bahwa semua perusahaan pertambangan ditempatkan di bawah pengawasan lembaganya.
Tiga bulan kemudian, sebagian kantor Poesat Djawatan Tambang dan Geologi, dipindahkan ke gedung Onderling Belang karena terdesak oleh serbuan pasukan Belanda bersama sekutu, bergeser ke Jalan Braga Nomor 3 dan Nomor 8, Bandung.
Ilustrasi Museum Geologi Bandung.


Akibat serangan yang semakin gencar itu, kegiatan Poesat Djawatan Tarnbang dan Geologi pindah dari Bandung ke Tasikmalaya, kemudian ke Magelang, dan Tirtomoyo. Sedangkan yang masih tinggal di Tasikmalaya, menyusul mengungsi ke Jawa Tengah. Keterbatasan sarana kerja, memaksa Pimpinan Djawatan untuk memencarkan para pegawai ke berbagai tempat. Sebagian ditempatkan di Borobudur, Muntilan, Dukun, dan Srumbung di kaki Gunung Merapi.
Selama perang kemerdekaan, Desember 1945-Desember 1949, kantor Poesat Djawatan Tambang dan Geologi dalam pengungsian dan berpindah-pindah. Untuk mengembangkannya, Lasut bersama Soenoe Soemosoesastro membuka Sekolah Pertambangan-Geologi tingkat pertama, menengah dan tinggi.
Kala itu, Lasut sebagai pemuda dengan sifat tegas, menolak bekerjasama dengan Belanda. Pada waktu Yogyakarta diduduki pasukan Belanda, Lasut sempat diculik dari kediamannya di Pugeran, dibawa dengan jip ke arah Kaliurang, kemudian dibunuh di daerah Sekip, yang saat ini masuk lingkungan Kampus Universitas Gadjah Mada.
Atas jasa-jasanya itu, Lasut dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tanggal 20 Mei 1969. Dengan penetapan itu, maka pengambilalihan kantor Chisitsu Chosasho dinilai sebagai peristiwa heroik yang penting bagi sektor pertambangan dan energi, dan akhirnya diperingati sebagai Hari Jadi Pertambangan Nasional.
Perjalanan dunia tambang di Indonesia diwarnai oleh perjuangan para pendiri bangsa, yang hingga kini semangatnya mesti dirawat dan terus dijaga.