Reuters β 26 Maret 2026 β Sektor batu bara-ke-bahan kimia (coal-to-chemicals) China yang unik tengah meraup keuntungan besar seiring perang di Timur Tengah yang mencekik pasokan minyak global melalui Selat Hormuz. Ketika produsen petrokimia di seluruh dunia menghadapi penyusutan margin yang parah akibat lonjakan harga minyak mentah lebih dari 30% sejak konflik dimulai, perusahaan-perusahaan China yang menyintesis produk minyak bumi dan bahan kimia langsung dari cadangan batu bara domestik justru menikmati keuntungan biaya produksi yang makin melebar.
Pergeseran geopolitik ini tercermin tajam di pasar saham China. Raksasa coal-to-chemicals telah mengalami reli yang signifikan sejak akhir Februari, dengan saham Ningxia Baofeng Energy saat ini diperdagangkan di kisaran CNY 30,35 dan China Shenhua Energy bertahan kuat di sekitar CNY 47,25. Sebaliknya, raksasa petrokimia tradisional yang bergantung pada minyak babak belur akibat melonjaknya biaya bahan baku dan adanya kontrol harga bahan bakar eceran oleh pemerintah. Pada akhir Maret ini, saham Rongsheng Petrochemical merosot ke level CNY 11,93, Hengli Petrochemical ke CNY 21,23, dan Wanhua Chemical ke CNY 79,64. Para analis mencatat bahwa divergensi ini tidak hanya memvalidasi profitabilitas sektor tersebut, tetapi juga memperkuat ekspansi strategis Beijing atas industri coal-to-chemicals sebagai lindung nilai (hedge) keamanan energi yang krusial di tengah gejolak pasar minyak dan gas global.
Jika China mendongkrak kapasitas coal-to-chemicals, dampaknya bisa mengubah pola permintaan batubara seaborne dan impor petrokimia di Asiaβberpotensi menambah permintaan beberapa spesifikasi batubara namun sekaligus menekan margin petrokimia ASEAN. Untuk Indonesia, pertanyaannya: apakah RKAB/DMO yang ketat dan rencana bea keluar akan membatasi peluang RI menangkap kenaikan permintaan dari China, atau justru jadi βpull factorβ baru yang menopang premium batubara Indonesia meski ada hambatan kebijakan?