Ketika film Frankenstein karya sutradara Guillermo del Toro tayang di Netflix pada November 2025, kisah klasik tentang Victor Frankenstein kembali menarik perhatian dunia.
Dalam tiga hari pertama penayangannya, film ini ditonton lebih dari 29 juta kali, dipuji karena visual gotiknya yang memukau serta kedalaman emosional ceritanya. Bagi banyak penonton, Frankenstein adalah kisah tentang ambisi manusia, kesepian, dan pencarian makna kehidupan.
Namun sedikit yang menyadari bahwa akar cerita ini, secara tidak langsung, dapat ditelusuri hingga ke sebuah gunung api di Indonesia. Pada April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa meletus dengan kekuatan luar biasa. Letusan ini tercatat sebagai salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah manusia. Awan panas menyapu lereng gunung, hujan abu menutupi wilayah yang luas, dan ribuan manusia kehilangan nyawa.
Di sekitar Tambora saat itu berdiri beberapa kerajaan kecil yang menjadi bagian dari jaringan perdagangan maritim Nusantara, di antaranya Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Masyarakat di kawasan ini memiliki bahasa, tradisi, dan sistem sosial yang berkembang selama berabad-abad. Namun ketika letusan besar terjadi pada 10 April 1815, semuanya berubah dalam waktu singkat.
Permukiman terkubur oleh abu vulkanik. Desa-desa hilang dari peta. Kerajaan yang pernah hidup di lereng gunung lenyap hampir tanpa jejak.
Karena itulah, para peneliti sering menyebut kawasan ini sebagai “Pompeii of the East.” Sebutan tersebut merujuk pada kota Pompeii di Italia yang terkubur oleh letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi.
LUMPUR TAMBORA – Kondisi dasar Kaldera Tambora di Danau Motil Lahalo dipenuhi lumpur pada tahun 2015.
Seperti Pompeii, wilayah Tambora menyimpan jejak peradaban yang tertimbun oleh material vulkanik. Penemuan artefak seperti keramik dan sisa-sisa permukiman menunjukkan bahwa di tempat tersebut pernah berkembang masyarakat yang hidup dalam jaringan perdagangan maritim Nusantara.
Namun kisah Tambora tidak berhenti pada tragedi lokal. Letusan besar itu menyemburkan abu dan gas sulfur ke atmosfer dalam jumlah sangat besar. Partikel-partikel tersebut membentuk lapisan yang menghalangi sinar matahari mencapai permukaan bumi. Dampaknya terasa hingga ke belahan dunia lain. Tahun berikutnya, 1816, dikenal sebagai “The Year Without a Summer”—tahun tanpa musim panas.
Di Eropa dan Amerika Utara, suhu turun drastis. Cuaca menjadi tidak menentu, hujan dan badai terjadi terus-menerus, dan panen gagal di berbagai wilayah. Krisis pangan melanda masyarakat, sementara langit tampak gelap dan suram selama berbulan-bulan.
Dalam suasana inilah sebuah karya sastra legendaris lahir.
Pada musim panas 1816 di tepi Danau Geneva, Swiss, sekelompok penulis muda, Lord Byron, Percy Bysshe Shelley, Mary Shelley, dan John Polidori, terjebak di sebuah vila karena cuaca dingin dan hujan yang tidak kunjung berhenti. Untuk mengisi waktu, mereka saling menantang menulis cerita horor.
Dari pertemuan itu lahirlah novel Frankenstein karya Mary Shelley, sebuah karya yang kemudian menjadi salah satu cerita gotik paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia.
Rantai peristiwa ini menunjukkan hubungan yang menarik: letusan gunung api di Indonesia memicu perubahan iklim global, yang kemudian menciptakan suasana kelam di Eropa, suasana yang menginspirasi lahirnya karya sastra klasik dunia.
Dengan kata lain, peristiwa lokal di Indonesia ternyata memiliki dampak global, tidak hanya terhadap iklim dan sejarah, tetapi juga terhadap imajinasi manusia.
Hari ini, lebih dari dua abad setelah tragedi tersebut, Tambora mulai dipandang dari perspektif yang berbeda. Kawasan ini tidak lagi hanya dikenang sebagai lokasi bencana besar, tetapi juga sebagai warisan geologi dan budaya yang sangat penting.
Kaldera raksasa Tambora, lanskap savana yang luas, serta jejak arkeologi dari kerajaan yang hilang membentuk sebuah narasi yang unik tentang hubungan antara alam dan peradaban manusia. Inilah alasan mengapa Tambora memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai geopark kelas dunia.
Konsep geopark tidak hanya berfokus pada konservasi geologi, tetapi juga pada edukasi dan pembangunan ekonomi masyarakat melalui geowisata berkelanjutan. Wisatawan yang datang ke Tambora tidak hanya menikmati pemandangan alam yang dramatis, tetapi juga memahami bagaimana sebuah letusan gunung api dapat mengubah sejarah dunia.
Mendaki Tambora hari ini bukan sekadar perjalanan wisata alam. Ia adalah perjalanan melintasi waktu—dari kerajaan yang terkubur oleh abu vulkanik hingga peristiwa global yang menginspirasi lahirnya salah satu karya sastra paling terkenal dalam sejarah.
Tambora mengingatkan kita bahwa Indonesia bukan hanya sekadar latar geografi dalam sejarah dunia. Peristiwa yang terjadi di negeri ini dapat memberi pengaruh besar terhadap ilmu pengetahuan, iklim global, bahkan budaya dan sastra dunia.
Dari abu yang pernah mengubur peradaban, Tambora kini memiliki peluang untuk menjadi simbol warisan geologi dunia, tempat di mana sejarah bumi, sejarah manusia, dan imajinasi global bertemu dalam satu lanskap yang luar biasa.
sumber: tribunlombok.com